Woman Talk Show _ Melanie Subono


resized cilukba

Hallo semua!

Youth Rights Festival kembali lagi ngajak kamu untuk membangun perdaban Hak Asasi Manusia yang lebih baik nih! Kali ini, dalam rangka Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan Internasional tanggal 8 Maret 2013.

Kami, sangat mengharapkan kehadiran teman-teman semua dalam:

Sharing Session Anti Kekerasan Dalam Pacaran: #CILUKBA, Cinta: Luka/Bahagia?”ruang ngobrol yang santai namun mendalam soal Kekerasan Dalam Pacaran yang banyak menimpa teman-teman muda. Kami juga berharap, setelah acara ini, seluruh pihak yang terlibat dapat kembali merenungkan apa makna Cinta dalam hidup kita masing-masing; khususnya, Cinta dalam Hubungan Pacaran yang seharusnya berlandaskan penghargaan dan jauh dari unsur kekerasan. Cinta, semestinya bebas dari Luka, dan membuat siapa saja menjadi Bahagia dengan cara yang Merdeka – apa adanya.

Sharing Session Anti Kekerasan Dalam Pacaran:
#CILUKBA, Cinta: Luka/ Bahagia?”

Bersama:
    – Bunga Mega (founder @cewequat)
    – Melanie Subono
    – Rika Nosvianti (pemerhati masalah seksualitas)

Jumat, 8 Maret 2013 
Pukul 16.00 s/d 18.00 WIB 
di Coffee War, Kemang Timur No.15A Jakarta Selatan 12730

ACARA INI GRATIS DAN KEHADIRANMU SANGAT DINANTI-NANTI!🙂

Info lebih lanjut:
Mention@youthrightsfest
atau sms 087877728281 – Ninies

TOR-SHARING SESSION

Term of References

(Kerangka Acuan)

Sharing Session Anti Kekerasan Dalam Pacaran:

#CILUKBA, Cinta: Luka/Bahagia?

8 Maret 2013

Youth Rights Festival
&
Coffee War Kemang

Latar Belakang:

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (KOMNAS Perempuan)

menyebutkan bahwa selama tahun 2011 telah terjadi 119.107 kasus Kekerasan

Terhadap Perempuan di 33 provinsi se-Indonesia. Angka tersebut didapat

berdasarkan survey yang dilakukan KOMNAS Perempuan terhadap 395 lembaga

layanan bagi perempuan korban kekerasan. Semakin bertambahnya perempuan

korban kekerasan di Indonesia dari waktu ke waktu, rupanya tak lepas dari maraknya

kasus-kasus Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) yang pada 2011 lalu, ‘menyumbang’

angka sebanyak 1.405 kasus Kekerasan Dalam Pacaran dengan korban yang

99% ialah kaum perempuan. Pulau Jawa, menjadi pulau yang tercatat memiliki

paling banyak kasus Kekerasan Terhadap Perempuan termasuk Kekerasan Dalam

Pacaran (KDP); bahkan, DKI Jakarta tercatat memiliki 11.209 kasus Kekerasan

Terhadap Perempuan selama tahun 2011 lalu. Diperkirakan, ada 1000 perempuan

mengaku telah mendapatkan Kekerasan dari Pacarnya dalam kurun waktu satu

tahun. Data tersebut juga tak jauh berbeda dengan Laporan Tahunan United Nations

Population Fund (UNFPA) Indonesia tahun 2010, yang menyatakan bahwa: setiap

hari, 3 perempuan di DKI Jakarta mengaku telah mendapatkan Kekerasan dari

pacarnya. Nah, bisa dibayangkan bukan, betapa banyaknya Perempuan dan Laki-

Laki yang menjadi korban kekerasan namun tidak melakukan pengaduan sehingga

tidak tercatat? Inilah fenomena gunung es yang sayangnya tidak banyak didiskusikan

secara terbuka untuk mempertemukan para korban (yang tentunya sudah by consent

ingin menceritakan kisahnya), psikolog, serta siapapun yang berada di luar (atau

sedang terancam) Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) itu sendiri.

Kekerasan dalam Pacaran (KDP) menjadi ‘trend’ belakangan ini sedikit banyak

akibat beredarnya pemikiran-pemikiran mengenai Kekerasan Dalam Pacaran (KDP)

yang seolah ‘membenarkan’ kekerasan tersebut; dianggap sebagai tanda sayang,

sebagai tanda peduli, dan lain sebagainya. Padahal, Kekerasan Dalam Pacaran

(KDP) yang terdiri dari beragam bentuk kekerasan terhadap pasangan dalam

relasi pacaran; baik secara fisik, seksual, psikologis, hingga ekonomi ini, adalah

kejahatan serius yang dikhawatirkan akan menjadi ‘lingkaran tak terputus’ bila

tidak mendapat perhatian khusus. Miskonsepsi ini bisa berujung pada tidak sadarnya

pasangan akan tindakan-tindakan kecil yang sebenarnya, dalam beberapa kasus dan

konteks, bisa dianggap sebagai KDP. Misalnya; memaksa memakai baju tertentu,

‘Cinta: Luka/Bahagia?. Apakah cinta harus diselingi luka? Apakah mustahil bagi

cinta untuk mem-bahagia-kan kita dengan cara yang ‘merdeka’?

Tujuan Kegiatan:

Pada momentum Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Internasional 8

Maret 2013 mendatang, kami berharap Sharing Session Anti Kekerasan Dalam

Pacaran: #CILUKBA, Cinta: Luka/Bahagia?” bisa menjadi ruang ngobrol yang

santai namun mendalam soal Kekerasan Dalam Pacaran yang banyak menimpa

teman-teman muda. Kami juga berharap, setelah acara ini, seluruh pihak yang

terlibat dapat kembali merenungkan apa makna Cinta dalam hidup kita masing-

masing; khususnya, Cinta dalam Hubungan Pacaran yang seharusnya berlandaskan

penghargaan dan jauh dari unsur kekerasan. Cinta, semestinya bebas dari Luka, dan

membuat siapa saja menjadi Bahagia dengan cara yang Merdeka – apa adanya.

Bentuk Kegiatan:

Sharing Session Anti Kekerasan Dalam Pacaran: #CILUKBA, Cinta: Luka/

Bahagia?” berisi Curhat Bareng (diskusi soal Kekerasan Dalam Pacaran, berbagi

pengalaman, dsb) bersama beberapa orang muda diantaranya: Bunga Mega (founder

http://www.cewequat.com), Melanie Subono *to

Ada juga pembacaan puisi/menonton film, serta penulisan makna “Cinta:…….”

oleh semua yang terlibat dalam acara, pada post-it untuk kemudian ditempel/dipajang

sebagai bukti. Sharing Session Anti Kekerasan Dalam Pacaran: #CILUKBA,

Cinta: Luka/Bahagia?” akan dilangsungkan pada:

Jumat, 8 Maret 2013 (bertepatan dengan Hari Anti Kekerasan

terhadap Perempuan Internasional)

Pukul 16.00 s/d 18.00 WIB

be confirmed

, dan seorang pakar psikologi.

Coffee War, Kemang Timur No.15A Jakarta Selatan 12730

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s